13 Sep 2017

Asix Oleh Oleh, Berharap Maju Bersama UMKM Malang

Kota Malang saat ini lagi kebanjiran produk-produk milik artis ibukota, nggak heran sih ya jika Kota Malang jadi incaran para artis untuk membuka "lapak" di Kota Dingin ini. Selain karena potensi alamnya, potensi wisatanya pun sudah bukan jadi barang baru lagi. Begitu banyak taman hiburan dan rekreasi yang tinggal tunjuk jari saking banyak pilihannya. Jatim Park, Museum Angkut, Batu Night Spectacular hingga yang terbaru adalah Malang Night Paradise adalah sejumlah tempat dari beragam pilihan wisata di daerah Batu dan Malang. Berhubung saat ini Malang sudah jadi tujuan destinasi orang se-Indonesia, membuka bisnis kuliner tentu bisa menjadi sesuatu yang menjanjikan di Malang. Apalagi jika sudah memiliki nama besar dan dikenal banyak orang. Kesempatan ini pula lah yang di ambil Anang dan Ashanty sekeluarga dengan membuka toko Oleh Oleh Asix (A6).

Asix (A6) sendiri merupakan toko kue yang namanya terinspirasi atau diambil dari inisial semua anggota keluarga Anang yang berjumlah 6 ini (Anang, Ashanty, Aurel, Azriel, Arsy, dan Arsya). Toko yang baru dibuka 19 Agustus 2017 ini mengundang rasa penasaran warga Malang dan  sekitarnya. Toko tak pernah sepi dan selalu didatangi customer terutama ketika akhir pekan.Selain nama dari toko oleh-olehnya diambil dari inisial nama, tiap varian kue nya pun diberi nama sesuai dengan nama anggota keluarga musisi Anang Hermansyah ini. Sesuai jumlah anggota keluarga, variannya pun ada 6 rasa, Anang Charchoal, Ash Kayagreen, Loly Rainbery Velvet, Jielly Hazeline, Acio Chocolava, dan Acabi Chizmelt.


Soal rasa, kue jenis sponge cake ini cukup lembut dan pas rasanya. Sejauh ini saya baru mencoba Jielly, Anang, dan Loly. Dari ketiga varian rasa tersebut menurut saya yang juara adalah varian Jielly Hazeline dengan filling cokelat hazelnutnya. Selain toppingnya yang crunchy, cakenya yang wangi dan fillingnya yang full cokelatnya, perpaduan ketiganya bener-bener bikin meleleh di mulut dan pengen nambah lagi dan lagi. Ditambah, rasanya benar-benar pas dan nggak bikin eneg sama sekali. 


Cake A6 Oleh Oleh ini dibuat selalu fresh pada hari tersebut dijual dan selalu habis, sehingga nggak ada kue yang menginap di store. Keunggulan lain, cake yang dibuat tidak ada tambahan bahan pengawet sehingga hanya tahan 3 hari di suhu ruangan dan 7 hari jika di simpan di kulkas. Ketahanan kue juga yang menjadi alasan A6 Oleh Oleh tidak melayani pengirim luar kota karena bisa beresiko kerusakan kue. Selain kuenya bisa rusak, beresiko juga jika kue kadaluarsa di jalan.


Berbeda dengan artis kebanyakan, keluarga A6 menyadari bisninsnya bisa "melibas" usaha skala rumahan, A6 justru mengajak UMKM untuk maju bersama dengan menyediakan display khusus UMKM di store A6 di jl Guntur no 8, Malang. Bahkan minggu lalu, saya berkesempatan datang ke acara Festival UKM dan Kuliner yang sengaja dibuat untuk sekaligus membantu UMKM di Malang. Acara yang digelar dari tanggal 10-11 September ini bahkan dihadiri langsung oleh Anang, Ashanti dan Aurel. Setelah sesi berjualan  A6 Oleh Oleh, keluaga A6 ini berbaur dengan customer, pelaku UMKM bahkan melakukan sesi foto bersama setiap UMKM yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.

Anang sendiri sempat berucap jika acara Festival UKM dan Kuliner ini akan diadakan secara rutin dan berlangsung satu bulan sekali. Hal ini juga merupakan bukti dari komitmen A6 Oleh Oleh untuk menggandeng UMKM Kota Malang. UMKM yang terlibat berupa makanan, kopi, produk kerajinan, dan juga pakaian.

5 Sep 2017

Machete Cafe, The One and Only Cafe Di Kawasan Coban Rais



Machete Cafe

Udah tau dong wisata baru yang lagi hits banget di Batu, ituloh yang bisa foto-foto dengan pemandangan kwerenn banget, bisa foto di hammock, sepeda udara, ayunan dll. Lokasinya berada di kawasan Coban Rais. Tapi kali ini bukan mau bahas Batu Flower Gardennya. Ada satu yang menarik perhatian saya ketika main lagi untuk kedua kalinya ke kawasan Coban Rais, yakni ada salah satu café yang pas banget buat ngadem.

Machete Cafe
Machete Cafe
Machete Café ini baru dibuka sejak bulan puasa lalu. Meski belum rampung secara keseluruhan, Machete sudah mulai beroprasi mulai dari jam 09.00-16.00. Nah berhubung belum jadi sepenuhnya, ternyata di Café ini nantinya bakal ada fasilitas lain seperti spot foto, arena bermain, dan ada arena bermain air soft gun. Terbayangnya sih bakan seru banget ya, melihat lokasi yang mendukung untuk permainan menantang ini. 

Area Panahan

Playground
Tak hanya sekedar makanan yang dijual disini, tetapi menurut saya pemandangan dan suasana alam yang jadi unggulannya. Saya akui, tempatnya bikin betah banget karena sejuk, teduh, dan menenangkan. Bagaimana tidak? Karena Café ini dibangun disekeliling hutan pinus. Berbeda dengan café lain yang dibangun di daerah wisata Coban, Café ini tidak membabat pohon pinusnya. Tapi justru memanfaatkan lahan-lahan kosong disekitar pohon-pohon pinusnya. 

Machete Cafe
Soal makanannya, ketika saya berkunjung kesana ada beberapa menu lalapan dan juga soto. Menurut saya lalapannya juara, apalagi sambelnya. Entah karena merasa lapar ya hahah. Tapi emang beneran enak sih, hanya saja kebetulan nasinya nggak hangat jadi sedikit mengurangi kenikmatan. Untuk minuman ada beberapa minuman seperti kopi, teh, susu dan susunya ternyata diambil dari peternakan sekitar.  

Machete Cafe
Ngomongin soal fasilitas, tempat ini cukup lengkap banget sih menurut saya. Beberapa fasilitasnya adalah kamar mandi dan musholla yang nggak “alakadarnya.” Terlihat sih ya, pengelola memang mengutamakan kenyamanan pengunjung. Selain itu, area sekitaran café tak hanya sejuk dan hijau karena pemandangan tetapi juga bersih. Ini nih yang perlu digaris bawahi, kebersihan tempat juga membuat saya makin betah di tempat ini. 

Musola
Kamar Mandi
Kamu-kamu yang lagi berkunjung ke Batu Flower Garden atau ke Coban Raisnya, bisa lah mampir-mampir sekalian ngadem di tempat ini. Lebih seru kalau ajak teman atau keluarga.  

16 Agt 2017

Sound of 3 Malang, Menghentak Malam Minggu Dengan EDM

 
EDM (Electronic Dance Music) memang sedang digandrungi generasi milenials saat ini. Sehingga tak heran jika anak-anak muda jadi mengidolakan DJ kelas dunia seperti Jonas Blue, Alan Walker, David Guetta. Tapi Indonesia pun nggak kalah update dan hebatnya. Sound of Wave, Dimas Angger, dan nama lama seperti Wingky Wiryawan pun tetap jadi dambaan para pecinta music EDM. 


Buktinya saat acara Sound of 3 akhir pekan lalu yang mengundang para musisi lokal, Lapangan Rampal Malang dipenuhi oleh generasi-generasi milenial Malang. Tak heran sebenarnya jika acara ini menarik antusiame anak muda di kota Malang karena artis-artis pengisi acaranya pun artis ibukota yang sedang digandrungi dan diidolakan banyak orang. Sebut saja seperti Teza Sumendra, Wingky Wiryawan, GAC, Dimas Angger, Sound of Wave, dan juga Kotak band.



Ahhh yang terakhir ini nih yang bikin saya ngotot banget pengen nonton sound of 3 ini, beruntungnya karena saya member of Malang Citizen dapet deh free access sebagai media yang meliput. Sebenarnya yang saya dengar bahwa tiket nonton tidak diperjual belikan. Jadi yang bisa nonton hanya pengguna kartu 3 yang sudah memiliki point cukup dan ditukar dengan tiket nonton. Tetapi pada kenyataannya ternyata ada juga yang menjual tiketnya baik dari broadcast WA dan calo yang tak sengaja saya temui saat menuju gate area konser.









 

Karena siangnya kebetulan kerja, saya nggak sempet ikut Press Conference-nya. Jadilah liputan hanya saat konsernya wkwk. Ini juga pengalaman pertama meliput konser besar sekelas Sound of 3 dan acara ini sumpahhh petcahhhh banget dehh. Meski sibuk potret sana-sini dan nggak bisa begitu menikmati konser (maklum, biasanya penonton) dengan khidmat, saya akui konser yang diselenggarakan provider kartu seluler ini bener-bener awesome pake banget. Lagu-lagunya pun jinkrak-able bangettt. Saya yang berada di deretan paling depan, beberapa langkah dengan panggung yang pastinya khusus untuk media, ngiler banget liat penonton yang loncat-loncat dan nyayi bareng menikamti musik yang dibawakan artis.



 
Selain musik yang keren dan artis yang top, settingan lighting saat konser ciamik banget deh. Apalagi saat musik-musik EDM dibawakan, tata lampunya mendukung banget dengan musiknya. Jatohnya, konser ini jadi super awesome bagi saya pribadi. Bahkan dari kejauhan pun, sorot lampu warna-warninya udah terlihat keren.



Konser ini pun sangat  berkesan buat saya karena for the first time juga saya cuma beberapa langkah dengan artis-artis idola, ahhhhhhhh. Apalagi saya penggemar Kotak sejak lagu Beraksi-nya yang hits itu, saat itu pertama kalinya juga liat mereka dari deket banget. Sebenernya udah pernah nonton konsernya Kotak tapi dulu posisinya agak jauh gitu deh sama stage wkwk. Meski pada kenyataannya ternyata liat mereka dari dekat rasanya biasa aja wkwk tapi ada rasa senang melihat idola dari deket banget nget nget. Bahkan saya sempet kejar mereka kebelakang panggung setelah konser selesai. Sempet salaman juga dengan Tantri dan Chua tapi nggak bisa foto bareng karena saat itu di backstage udah gelap. Alhasil cuma foto mereka dengan jarak beberapa puluh cm :D      



Selain kolaborasi-kolaborasi apik para artis-artis pengisi acara, fasilitas yang disediakan pun menurut ukuran saya brilliant. Nggak hanya ada tempat makan dan kamar mandi saja, tetapi banyak spot-spot yang instagramable buat foto-foto. Selain ajang promosi yang kreatif di medsos lewat foto-foto penonton, konsep area konser yang mirip karnaval ini dibuat untuk memenuhi hasrat para anak muda yang doyan foto untuk eksis di medsos. Ditambah, panitia benar-benar memanfaatkan area konser di Lapangan Rampal yang cukup luas dengan beragam fasilitas-fasilitas penunjang tersebut.  



So far, ini konser terkeren sih yang pernah saya datangi ;)

12 Agt 2017

Queen Apple Pilihan Oleh-Oleh Malang, Luncurkan Rasa Baru


“This is it” itulah kalimat andalan chef cantik, Farah Quinn yang juga ternyata jadi jargon untuk produk oleh-oleh Malang yang mulai dirintisnya sejak Mei 2017 lalu. Produk racikan chef ternama ini berupa cake dan srudel tetapi yang jadi andalan adalah beragam varian cake rasa lokal namun dengan bentuk yang lebih modern. Cita rasa local inilah yang diambil dari potensi daerah Malang maupun Batu.   

Karena sudah membuka beberapa outlet oleh-lehnya di daerah Malang dan sekitarnya, Farah Quinn jadi rutin ke Kota Apel. Seperti saat 10 Agustus kemarin, ada yang berbeda di jl. Kawi no 23 Malang. Farah Quinn meluncurkan varian cake terbarunya yakni Choco Banana sekaligus Meet and Greet dengan para pengunjung yang datang. Betungtungnya saya dan teman-teman Malang Citizen diberi kesempatan untuk datang dan meliput acara Meet and Greet tersebut. 


Acara dimulai sekitar jam 15.00 dan berjalan seru dan santai. Acara dimulai dengan sambutan dari pihak staff Queen Apple, lalu ada juga perwakilan dari Dinas Pariwisata Kota Malang, dan yang ditunggu-tunggu yakni Tanya jawab bersama Farah Quinn seputar Queen Apple dan cake rasa barunya.   

Alasan mengapa Farah memilih Malang sebagai tempat bisnis yang potensial karena selain Malang memiliki banyak potensi terutama pada sektor buah-buahan juga Malang menjadi tujuan wisata bagi masayarakat kebanyakan. Oleh-oleh dan wisata? Tentu dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Meski diakuinya, Cake merupakan resep Eropa tetapi bahan-bahan untuk produk Queen Apple adalah asli Malang dan beberapa asli Indonesia, contohnya seperti Apel dan pisang yang diambil dari daerah Malang dan Batu. Ada juga Kayu Manis salah satu varian rasa cake Queen Apple yang diambil langsung dari Kalimantan.


Demi kualitas produk yang baik, bahkan Farah sempat blusukan langsung ke Pasar Blimbing untuk memilih beragam jenis pisang yang cocok untuk Cake Choco Banana. Farah memang tak main-main dengan bisnis oleh-olehnya ini, tak hanya sekedar mendompleng nama besarnya saja sebagai public figure. Tetapi produk yang ia juga tetap memiliki kualitas tak hanya sekedar ikutan latah dengan fenomena “artis jualan kue.” 

Untuk rasa kuenya pun saya akui enak, lembut, dan manisnya pun pas. Cocok untuk saya yang tidak terlalu suka manis. Karena baru pertama kali mencoba kue dengan topping scrumble, saya malah jadi ketagihan karena scrumblenya pun enak wkwk. Kalo sekedar baca artikel saya saja mungkin g bakal percaya, “kan ini promosi.” Tapi ada baiknya dicoba langsung dan membuktikannya sendiri. Kalo menurut saya sih, dijamin nggak bakal rugi kalo beli kue artis yang ini xixixi. Bukan dompleng nama artisnya sih, tapi Farah kan memang terkenal sebagai chef, jadi masih mau meragukan kualitas seorang chef? :p sebagai tambahan juga, Farah ini Chef yang memang background pendidikannya di pastry jadi ya mau nggak mau kualitasnya udah teruji lah ya. 

Karena kuenya selalu fresh from the oven jadi hanya tahan 3-4 hari saja. Bahkan Farah menyarankan untuk yang tidak sempat ke Malang, lebih baik titip dengan teman daripada beli online. Farah nggak mau pembelinya kecewa karena makan kue yang sudah tidak diketahui sejak kapan kuenya dibuat. So, Farah tidak bisa menjamin soal kualitas jika konsumen membeli online. Enaknya sih ya pas mampir di Malang pas beli Queen Applenya hhehe.

Untuk outlet resminya sendiri ada di tiga tempat yakni Jl. Kawi no 23-Malang, Jl. Perusahaan no. 06 tunjungtirto-Singosari, Jl. Sultan agung no.30 Batu ( Depan Museum Angkut)

Selain itu bisa juga di beli di beberapa tempat seperti
- Kafe Ria Jenaka Batu,
- Hotel Harris Malang, 

- Kafe Box Bandara Abdul Shaleh Malang,
- Kafe Box MOG Malang, 

- Kribo pusat oleh-oleh Jln. Tumenggung Suryo 110 A Malang,
- Kencana pusat oleh-oleh Singosari – Malang,
- Social Palace, Jl. Raya Danau Maninjau, Sawojajar, Malang,


8 Agt 2017

Kopdar Nasional KAHMI Gelar Acara Jalan Sehat Berhadiah Umroh




Siapa yang tak kenal organisasi besar sekelas HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Setiap mahasiswa yang aktif organisasi tentu mengenal salah satu Organisasi ekstra kampus ini. Tak hanya solid semasa menjadi mahasiswa, Alumninya pun yang disebut KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) tetap saling menjadi silaturahmi sesama anggota bahkan lintas propinsi. Salah satu acara rutin tahunan yang biasa dilakukan untuk mempererat hubungan antar alumni yakni dengan kopdar. 

Dengan skala anggota yang banyak dan ada diseluruh Indonesia, KAHMI rutin menggelar Kopdar Nasional. Untuk tahun 2017 kali ini, Kopdar Nasional memilih Malang sebagai tuan rumah. Acara yang dilaksanakan mulai 29-30 juli 2017 mengundang seluruh alumni HMI se-Indonesia. Tak hanya kalangan HMI saja, untuk acara Uklam-Uklam Tahes atau jalan sehat panitia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk hadir dan berpartisipasi dalam acara ini. Acara jalan sehat 5 KM ini memilih rute Balai Kota Malang- Jl. Suropati-Jl. Pattimura-Jl. J.A Suprapto-Jl. Basuki Rahmat- Jl. Merdeka Utara- Jl. Merdeka Timur- Jl.K.H Agus Salim -Jl. Zainul Arifin- Jl. Aries Munandar Jl.M.G.R Sugiyono Pranoto – Jl. Majapahit dan berakhir di Bundaran Tugu Malang. 

 
Mengusung tema “Jangan Pernah Lelah Merawat Indonesia” acara ini dihadiri beberapa tokoh nasional seperti Mahfud MD (Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), Akbar Tanjung (Mantan Ketua Umum Golkar), Rendra Kresna (Bupati Malang), Ferry Mursyidan Baldan (Mantan Menteri Perencanaan pembangunan Nasional), dan juga Ridwan Hisyam (Anggota Komisi X DPR).  
 
Tak hanya sekedar jalan sehat saja, tentu acara jalan sehat selalu di akhiri dengan pengundian doorprize. Gelaran jalan sehat KAHMI 2017 ini tak tanggung-tanggung menyediakan 3 tiket umroh sebagai hadiah utama bagi 3 orang peserta jalan sehat yang terpilih. Untuk sekelas alumni HMI tentu tidak mengherankan jika bisa menggandeng Haji Persada Indonesia, salah satu Biro Travel Haji dan Umroh sebagai sponsor acara Jalan Sehat. Beragam hadiah lain seperti kulkas, TV LCD, beragam voucher pun secara gratis dibagikan oleh panitia untuk para peserta. Acara diramaikan juga selingan hiburan tari-tarian dan reog. Selain itu, berbagai macam stand UKM disekitaran Balaikota pun turut memeriahkan acara Uklam-Uklam Tahes KAHMI 2017 ini.   

1 Jul 2017

Museum Musik Satu-Satunya di Indonesia Ada di Malang


Kumpulan majalah-majalah jadul


Selain kampung tematik seperti kampung Jodipan, Kampung Herbal, Kampung Topeng dll, Malang patut juga berbangga dengan kehadiran Museum Musik Indonesia (MMI). Museum musik ini berlokasi di jalan Nusakambangan no.19 Kota Malang, tepatnya berada di lantai dua Gedung Kesenian Gajayana. 
Poster MMI
 Museum yang awalnya hanya dibangun di garasi yang tak terpakai kini lebih tertata, nyaman dan lebih luas dari tempat sebelumnya. Sejak November 2016 lalu, Museum Musik dipinjami tempat di Gedung kesenian Gajayana berkat kerjasama dengan BEKRAF dan Pemerintah Kota Malang. Peresmian museum saat resmi pindah ke Gedung kesenian jatuh pada 19 Nov 2016. Saat itu, museum diresmikan langsung oleh kepala dinas kebudayaan dan pariwisata. 

Majalah Hai yang sangat populer pada zamannya

Alasan tercetusnya Museum Musik adalah dari lima orang teman yang memiliki kesamaan hobi, yakni mendengarkan musik. Sejak muda kelima teman ini memang hobi mendengarkan musik dan mengkoleksi kaset musik. Ketika reuni kembali, tercetus ide untuk mengumpukan semua kaset yang sudah jarang diputar agar jadi dokumentasi yang bisa dipajang sehingga bisa dilihat  dan didengarkan kembali oleh orang banyak. 

Koleksi Museum Musik sendiri mulai dari kaset, CD (compact disk), piringan hitam, buku, majalah, alat musik modern maupun tradisional dari beberapa daerah hingga baju-baju musisi terkenal seperti Dorce, Dara Puspita dll. Museum yang buka setiap hari mulai jam 10.00-17.00 ternyata memiliki sekitar 22.000± koleksi secara keseluruhan. Padahal ketika MMI baru dirintis, koleksi hanya berjumlah 250 buah. 


Jumlahnya bisa melonjak tinggi karena banyaknya kontribusi dari berbagai kalangan terutama masyarakat yang menyumbangkan beragam koleksi pribadinya. Uniknya mulai dari anak kecil hingga orang dewasa pun turut serta menambah koleksi di MMI. Selain itu, musisi-musisi lokal juga cukup banyak yang memberikan barang pribadi maupun kaset dan CD mereka sendiri. Bahkan Presiden keenam, Bapak SBY pun sengaja memberikan buku dan album CD secara cuma-cuma untuk menambah koleksi MMI.   



Tujuan utamanya dibagun museum musik ini agar banyak orang bisa mengenal dan mengingat karya-karya musisi lokal khususnya maupun mancanegara secara umum. Ditambah, MMI juga menjadi tempat belajar mengenai sejarah musik Indonesia maupun dari segi teknologi alat putar musiknya.

Selain pengumpulan barang yang berkaitan dengan musik dan mengedukasi pengunjung yang datang, kegiatan pengelola dan relawan di MMI adalah mendigitalisasi lagu-lagu. MMI mendigitalisasi musik-musik dari dari segala bentuk alat putar musik seperti kaset, CD, dan piringan hitam. Dalam hal ini selain 5 founder, MMI juga menerima volunteer atau relawan yang ingin membantu penataan maupun mendigitalisasi lagu-lagu. Sejauh ini baru ada 3 relawan yang membantu.    

Sayangnya museum ini terbilang sepi pengunjung, mungkin penyebabnya karena belum banyaknya orang yang tahu karena sosialisasi yang kurang dari pihak pengelola. Bahkan, pihak pengelola museum sendiripun mengakui jika memang kurang sosialisasi, masih terkendala beberapa hal seperti website yang masih dimoderenisasi dan beberapa hal lainnya. Nantinya, pihak pengelola akan mengundang pewarta untuk hadir memberitakan sekaligus memperkenalkan Museum Musik Indonesia.




Kedepan, MMI diharapkan bisa jadi pusat dokumentasi musik terbesar di Indonesia karena musik sendiri merupakan karya budaya bangsa yang patut diapresiasi, dijaga, dan didokumentasikan. Ditambah, pengelola pun berharap bisa mensosialisasikan MMI ke sekolah-sekolah agar siswa-siswi bisa berkunjung ke Museum dan mengenal seluk beluk musik dari beragam koleksi-koleksi yang dimiliki MMI.