23 Jun 2016

Ngajar Ngaji Ketika Ramadhan

 
Sumber : https://www.pinterest.com/pin/396668679655997269/
         Saya mahasiswi yang menempuh pendidikan di kota Malang, lumayan jauh dari kota asal saya di Bandung. Kini sedang mendapat liburan yang super duper panjang, 4 bulan kurang. Karena satu dan lain hal liburan saya di Bandung hanya 1,5 bulan. Nanggung buat cari kerjaan untuk mengisi liburan.Sehingga hambar sekali rasanya liburan saya ini terlebih ketika ramadhan seperti saat ini. Hanya berdiam diri, membantu memberishkan rumah dan sesekali nongkrong bersama teman masa SMA. Tak seperti dulu ketika SMA, rasanya ketika itu ramadhan saya berarti dan bermanfaat buat orang sekitar.   

Dulu ketika SMA di sekolah saya setiap ramadhan diadakan kegiatan mengajar di masjid-masjid sekitar sekolah. Kegiatan ini mirip KKN nya anak kuliahan tapi ini dilakukan bocah SMA yang baru beranjak dewasa. Kegitan tersebut bernama Muballigh Hijrah. Semua murid dari kelas X SMA hingga kelas XII SMA diikutsertakan dalam program tahunan sekolah ini. Sebelum diterjunkan ke masyarakat kami dibina beberapa hari untuk lebih memantapkan ilmu untuk turut berdakwah langsung ke masyarakat sekitar. Kegiatan ini berlangsung selama dua pekan yang diakhir kegiatan ditutup dengan lomba-lomba antar murid-murid binaan. Setelah pembinaan, kami dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah masjid binaan sekolah. Setiap kelompok terdiri dari 8 sampai 10 orang. Lebih dari 15 masjid yang akan siswa dan siswi bina. Karena sekolah saya berada di Desa Ciburial jadi lokasinya sekitar Desa Ciburial Dago Atas sekitar sekolah dan juga Desa Mekarsaluyu, Bandung. 
Setiap kelompok terdiri dari setiap kelas, biasanya anak-anak kelas XII yang paling tua menjadi ketua dikelompok masing-masing. Selain itu pengelompokan antara laki-laki dan perempuan dipisah. Perempuan ditempatkan didaerah yang tempatnya dekat dekat sekolah, siswi-siswi pun hanya mengajar setiap sore jadi mereka tetap kembali ke rumah masing-masing sepulangnya dari mengajar. Sedangkan lai-laki tempatkan di lokasi yang lebih jauh dari sekolah. Para siswa diwajibkan menginap di lokasi dimana mereka di tempatkan. Ada yang tinggal di masjid atau menginap di rumah warga sekitar. Karena ditempatkan di desa-desa pegunungan yang jauh dari kota, para siswa biasanya turut membantu warga yang kebanyakan mata pencahariannya bertani. Kegiatan para siswa jauh lebih menarik dan pastinya jauh lebih menantang. Kegiatan mereka dimulai dari shubuh membangunkan warga shahur, pagi hari hingga siang mereka membantu warga bertani, di beberapa masjid pada siang hari biasanya ibu-ibu bertadarus yang juga didampingi para siswa, kemudian sore dan malam hari mengajar anak-anak juga remaja-remaja binaan. 
   Siswa-siswi biasanya mengikuti jadwal atau kegiatan yang biasanya dilakukan di masjid binaan. Adapun program tambahan biasanya sesuai dengan kreativitas siswa dan siswi masing-masing. Semua aktivitas dinilai baik perorangan maupun perkelompok. Kinerja kelompok tak hanya dinilai dengan reward kelompok terbaik tapi dengan perolehan kemenangan murid-murid binaannya di setiap lomba yang diadakan di pekan terakhir kegiatan mubaligh hijrah. 
Saya sendiri selama tiga tahun mengikuti kegiatan tersebut banyak belajar. Kami layaknya guru dan pendakwah yang langsung turun ke masyarakat. Setiap hari kami memulai kegiatan dengan sholat ashar bersama dan belajar baca tulis Al-Quran, setelah murid binaan mendapat giliran membaca al-Quran atau Iqra biasanya langsung di arahkan untuk belajar menulis apa yang telah dia baca. Selain membacanya murid-murid pun bisa menulis dan memiliki tulisan arab yang bagus karena seringnya dilatih. Pembagian pengajaran pun betul diperhatikan oleh siswa-siswi, bagi yang sudah lancar membaca Al-quran akan mengajar Al-quran dan yang belum dipersilahkan mengajar Iqra. Kemudian dilanjut dengan pelajaran-pelajaran berbau islam, seperti Fiqih, Aqidah Akhlak, Bahasa Arab dan Bacaan do’a sehari-hari dll. Setiap siswa-siswi mendapat giliran mengajar, jadi semua mendapat pengalaman yang sama dan tak ada yang menjadi dominan. Sama halnya ketika pembagiaan untuk membina murid-murid binaan guna mengikuti lomba-lomba. Setiap anak membina beberapa anak untuk satu lomba. Ada beberapa lomba yang biasanya dilombakan antar masjid binaan, seperti lomba adzan, sholat berjamaah, cerdas cermat, nasyid, fashion show baju muslim, tahfiz, dan lomba doa-doa harian.
Tak hanya kegiatan belajar mengajar saja, kami pun biasanya mengadakan buka bersama dan teraweh bersama. Selain itu di akhir pekan kami membersihkan masjid bersama. Mengajarkan mencintai kebersihan pada anak-anak binaan dan membangun kebersamaan melalui bekerja sama membersihkan masjid. Tak lupa ada kegiatan bakti social dari sekolah yang tempatnya adalah salah satu dari kampung binaan kami. Semuanya benar-benar paket komplit yang bermanfaat untuk mengisi ramadhan. Tak sia-sia, justru malah bermanfaat bagi sesama.
Pengalaman Mubaligh Hijrah itu benar-benar nggak ada duanya. Ada rasa sayang yang menjalar ketika melihat anak-anak binaan yang masih kecil dan polos-polos minta di pangku dan dipeluk ketika kelas berlangsung. Ada kebanggan tak terkira ketika anak didik memenangkan lomba. Saya pun belajar bahwa setiap anak memang unik dan berbeda cara menghadapinya. Secara terpaksa memang saya belajar menjadi guru yang baik, berpenampilan yang layaknya sebagai guru dan bertutur kata dan tingkah laku yang baik pula. Walau terpaksa, lama-kelamaan rasa itu jadi rasa yang tulus dari hati. Tulus berbagi kasih sayang dan ilmu pengatahuaan yang sekedarnya saya miliki. Saya pun terheran-heran ketika melihat teman yang paling jayus dan kekanak-kanakan dikelas bisa jadi sosok yang tiba-tiba penyayang dan dewasa seketika ketika ia menggandeng salah satu murid binaannya. Dari situ saya tahu dia merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan.