20 Jul 2016

Menuju Bangku Kuliah

Dok. Pri


Foto ini saya ambil di kampus Universitas Negeri Malang Jalan Surabaya. Kampus ini tempat dimana saya menimba ilmu. Bisa dibilang kuliah di Malang adalah suatu keajaiban bagi saya. Saya tak pernah berencana dan memimpikan kuliah di Malang dengan jurusan yang saya ambil saat ini. Bukan hal yang mudah bagi saya bisa berfoto di depan kampus ini, ada cerita panjang yang tersimpan dibalik foto tersebut. 
Dari SMA saya punya impian untuk kuliah di luar Bandung. Selain karena ingin mencari pengalaman merantau, kebanyakan kakak-kakak saya sudah duluan nyatri di Yogyakarta dan Jawa Timur. Jadi ceritanya pengen ikut-ikutan gitu. Padahal setelah jauh, kangen dengan masakan gratis dan omelan emak di rumah. Impian lainnya, saya sangat menginginkan masuk di jurusan ilmu komunikasi biar jadi jurnalis ceritanya. Paling nggak jurusan sastra Indonesia lah, intinya sih tetep biar jadi jurnalis #kekeuh :D.
 Layaknya anak SMA saya berbagi cerita mengenai masa depan yang gambarannya seakan cerah. Saya bertukar cerita dengan salah satu teman dekat saya dari TK sampai SMA. Ia ingin masuk jurusan Sastra Inggris, katanya. Teman saya itu memang sangat senang dengan bahasa Inggris, bahkan dia sudah menguasai grammar dengan baik, tidak seperti saya yang hanya belajar english for fun, hanya senang melihat film barat dan mendengarkan lagu-lagunya saja, grammarnya mah kaga peduli hohoh.  
Seiring berjalannya waktu semua rencana indah yang telah saya buat seakan kabur. Orang tua meminta saya untuk masuk sekolah kedinasan perikanan dengan jurusan Pengolahan di Jakarta. Dengan hati ikhlas saya turuti kemauan orang tua dengan maksud tak ingin mengecewakan keduanya, toh nggak ada salahnya juga, pikir saya.
Karena masih ingin memperjuangkan rencana indah saya #teteupp, selain tes di Jakarta, saya pun mengikuti ujian SBMPTN, jaga-jaga jika saya tidak lolos di sekolah kedinasan tersebut. Rencana itu pun baru saya perjuangkan kembali di detik-detik penutupan pendaftaran SMBPTN. Saya baru membeli nomer pendaftaran di bank pada hari terakhir penutupan, saya pun masih ingat antrian di bank cukup panjang kala itu. Alhamdulillah saya masih bisa mendapat nomer pendaftarannya dan segera kembali ke rumah untuk mengisi berkas-berkas yang mesti di unggah melalui internet. Dikarenakan hari terakhir, jaringan pada saat itu kurang baik sehingga saya pun kesulitan mengunggah berkas-berkas pendaftaran. Berkali-kali hasilnya nihil, hingga terlitas dalam pikiran untuk menyerah karena berkali-kali saya coba tetap tidak membuahkan hasil. Mungkin bisa dibilang lebay, tapi pada saat itu pun saya diburu waktu. Berkas harus masuk jam 12 malam sedangkan dari sore hingga malam jaringan masih error. Keesokan harinya berkas-berkas baru bisa saya unggah, karena ternyata penutupan diundur beberapa hari kemudian. 
Masalah selanjutnya adalah pemilihan jurusan yang tidak direstui kakak dan ibu saya. Kakak tertua menyarankan utuk tidak mengambil jurusan komunikasi karena beberapa alasan. Saya pun memilih pilihan kedua, Sastra Indonesia. Pada saat itu saya mengemukakan pilihan saya kepada ibu, beliau berkata “udah sekalian aja bahasa inggris, syukur-syukur nanti kamu bisa sekolah diluar negeri.” Entah mengapa saya hanya menurut saja. Saya pun berpikir jika itu bukan ide yang buruk, saya cukup menyukai bahasa inggris. Akhirnya pemilihan universitas dibantu kakak kedua saya dengan pilihan pertama di Univeritas Negeri Malang. Ujian berlangsung selama dua hari dan berjalan dengan baik. Saya hanya bisa melakukan yang terbaik dan berdoa sebanyak-banyaknya pada saat itu.
Tes di Jakarta diadakan beberapa pekan setelah ujian SBMPTN. Maka beberapa pekan setelahnya saya menjalankan tes di Jakarta yang diadakan dengan 3 tahap. Setelah semua tes yang cukup panjang saya jalani hasilnya pun keluar. Ironisnya saya tidak lulus hanya karena tinggi badan saya kurang mencukupi. Memang sih saya terlalu PD tidak mengukur tinggi badan padahal, kenyataanya saya terlalu merendah dengan tanah (pendek maksudnya) wkwkwk. Namun, di hari terakhir tes, pengumuman hasil SBMPTN pun keluar. Dua kenalan saya yang lebih dulu mengecek ternyata tidak lulus, saya pun ikut pesimis dengan nasib saya. Bersyukurnya saya diterima untuk pilihan pertama yakni di Universitas Negeri Malang dengan jurusan Sastra Inggris. Saya sampai mengecek beberapa kali untuk memastikan kebenarannya. 
Setelah mengetahui gambaran tentang masa depan saya #lebay, saya segera mempersiapkan segalanya. Saya berangkat ke Malang untuk pertama kalinya guna melakukan regristrasi ulang di kampus. Saya berangkat sendiri dari Bandung menggunakan kereta sore hari yang kebetulan saat itu bulan ramadhan. Pagi harinya entah mengapa badan saya tiba-tiba meriang, karena sudah terlanjur membeli tiket saya tetap memutuskan untuk pergi dengan badan kurang fit dengan tetap berpuasa. Pagi harinya saya tiba di Malang, di stasiun sudah ada tante saya yang menjemput, kebetulan tante juga sedang menempuh studi S3 di kampus yang sama. Saya langsung di antar ke kampus untuk daftar ulang, tanpa mandi dan membawa tas yang penuh dengan barang-barang. Hasilnya, ketika di kampus hampir semua mata seakan memadang saya. Tas punggung yang cukup besar dan satu tas selempang yang seakan kurang pas dengan badan saya yang kecil. Saya hanya berusaha PD saja walau dengan tampang belum mandi dengan bawaan banyak :D.
Masalah lain muncul ketika saya belum mendapat indekos, semua nomer dalam selebaran-selebaran yang saya terima ketika daftar ulang habis saya telpon, tapi tak membuahkan hasil. Sedangkan beberapa pekan kemudian perkuliahan akan segera dimulai. Tanpa diduga salah satu sahabat ibu saya memiliki rekan kerja di Malang, nah rekan kerja sahabat ibu saya itu memiliki sahabat yang dirumahnya memiliki banyak kamar. Biaya kos-nya pun terbilang murah padahal dengan fasilitas lumayan wah. Akhirnya, resmilah saya menjadi seorang mahasiwi dan juga anak kos.
            Jika teringat perjuagan saya hingga bisa kuliah di Malang, saya selalu tak henti bersyukur dan kadang heran. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap rencana Allah jauh lebih indah. Ingat teman dekat saya, dia akhirnya dipilihkan jurusan Penyiaran Islam di salah satu universitas di Bandung oleh ibunya, bulan lalu dia baru praktek disalah satu televisi lokal Bandung. Allah memang sedang menunjukan keperkasaa-Nya dan juga kasih sayang-Nya. Selain itu saya percaya bahwa restu orang tua, terlebih seorang ibu memang segala-galanya. Saya merasa segala urusan saya dimudahkan ketika saya menuruti kehendak orang tua, ketimbang mengedepankan ego, dan ternyata memang terbukti. Kedepan saya masih berjuang untuk menyelesaikan studi agar bisa berfoto selfie di depan kampus dengan memakai toga.