12 Feb 2016

Berburu Kopi Legendaris Bandung: Aroma







Nama kopi Aroma Bandung sudah tersohor kemana-mana. Tak heran jika pabrik ini sering nongol di tv-tv nasional. Karena sering nongol di tv inilah saya jadi penasaran dengan rasa kopinya dan keramahan si pemilik. Info dari liputan televisi dan review dari beberapa blog memang menyebutkan bahwa si pemilik yakni Widya Pratama adalah pribadi yang ramah. Beliau adalah generasi kedua yang menjalankan bisnis keluarga ini. Sedangkan dari keunggulan kopinya sendiri, biji kopi disimpan minimal 5 tahun untuk menurunkan kadar keasamannya.Setelah itu baru bisa di proses menjadi kopi bubuk. Sehingga, kopi Aroma ini lebih nyaman di lambung dan pastinya lebih sehat karena tak ada tambahan bahan kimia apapun. Hal lain yang saya tahu adalah pembuatannya masih menggunakan mesin-mesin kopi zaman dulu. Contohnya, seperti pemanggang biji kopi juga pengiling kopinya.     






Untuk mengisi liburan dan menghilangkan rasa penasaran pada hari sabtu 16 Januari 2016 saya dan beberapa teman pergi kesana. Letak dari toko kopi Aroma ini sangat strategis yaitu di jl. Banceuy no. 51 tak jauh dari Alun-alun, Pasar Baru dan Jl.Braga Bandung. Saya memilih berjalan kaki dari jl.Braga menuju toko kopi Aroma ini alasannya ya sekalian foto-foto disekitaran jl.Braga dari Jl.Braga hanya butuh 10 menit berjalan kaki, sesampainya disana saya lihat sudah orang-orang yang mengantri untuk membeli kopi tersebut. Sepertinya sudah lumrah bagi yang tinggal di sekitaran toko kopi ini jika melihat antrian pembeli yang cukup panjang. Padahal saat itu menurut salah satu Bapak yang saya temui juga mengatakan bahwa jika antriannya bisa sangat panjang jika hari libur. Mungkin karena masih jam 10an jadi antrian belum begitu panjang, padahal menurut saya antriannya saat itu sudah lumayan panjang karena ada lebih dari 15an orang berjejer menunggu untuk dilayani.  





Sayangnya saya tidak bertemu dengan pemiliknya, saya hanya sempat ngobrol-ngobrol dengan salah satu ibu-ibu yang mengantri di depan saya yang juga sudah jadi pelanggan tetap. si Ibu bilang kalo mau masuk ke pabriknya harus janjian dulu dan memberikan beberapa info mengenai harga dan varian kopi Aroma. Saya sebenarnya sudah menduga kalo mau masuk ke pabrik harus janjian, tapi ketika membaca beberapa review di blog tidak menyebutkan harus janjian terlebih dahulu. Malah ada yang saat itu juga bisa langsung lihat-lihat. Kecewa sih cuma mau gimana lagi.




Hasil dari ngobrol bareng si ibu ternyata produk yang lebih banyak laku adalah kopi robusta dan arabika. Sebenarnya masih ada jenis kopi lain seperti Toraja, Aceh Gayo, dll tetapi yang memang banyak laku yakni robusta dan arabika. Sedangkan harga dari kopi Aroma per/250 gram: 




Robusta = Rp.15.000



Arabica = Rp. 20.000



Campuran (Robusta-Arabica) = Rp.17.000




            Selain jenis kopi yang bisa kita pilih, pembeli pun bisa memilih tingkat kehalusan bubuk kopinya. Ada 4 tingkat yakni: halus yang langsung tinggal seduh, medium, kasar, dan masih berupa biji. Untuk medium dan kasar sepertinya untuk digunakan untuk penikmat kopi yang memiliki alat seduh kopinya sendiri. Tak lama mengantri saya pun mendapat giliran. Saya memilih membeli 1 kopi Robusta dan 1 kopi Arabika. Ternyata meskipun antrian cukup panjang, pelayanan disini cepat juga ramah sehingga pembeli tidak perlu menunggu lebih lama lagi. 





            Rasa dari kopi Aroma yang saya rasakan memang lebih nyaman di lambung karena beberapa kopi hitam tradisional yang saya coba bikin sakit perut. Sedangkan di lidah menurut saya tidak jauh beda dengan kopi yang lain, hanya saja kopi Aroma lebih pahit juga lebih wangi ketimbang kopi lain. Walau pun bukan coffee addict saya suka dengan produk kopi Aroma ini lebih-lebih karena wanginya yang harum. Pantas dicoba lebih-lebih bagi para pecinta kopi!








Referensi:



http://direktori-wisata.com/wisata-ke-rumah-produksi-kopi-aroma-bandung/

Pertama tayang di 
www.kompasiana.com/rarasenja/berburu-kopi-legendaris-bandung-kopi-aroma_56a9c1ac5593732b07d58c4d