Sosialisasi Pentingnya Zakat Wakaf Untuk Pembangunan Negeri


Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam atau biasa disebut Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia mengadakan Lokalatih (Lokakarya dan Pelatihan) Tunas Muda Agent of Change Ekonomi Syariah dengan tema besar yang diangkat adalah Zakat dan Wakaf. Acara digelar di Hotel Aston Tropicana Cihampelas, Bandung selama 3 hari 2 malam mulai tanggal 29 November sampai 1 Desember 2017.  Dengan jumlah peserta mencapai 50 orang, berbagai unsur masyarakat turut diundang dalam acara mulai dari mahasiswa, pejabat eselon III dan IV baik dari Kanwil Jabar maupun Kemenag Pusat juga Blogger Bandung dan Jakarta. 

Dibuka oleh Dirjen Bimas Islam, Prof. Muhammadiyah Amin, M.Ag, setidaknya ada 7 sesi seputar keuangan syariah juga pengelolaan zakat wakaf yang diikuti oleh para peserta. Bertujuan memupuk generasi-generasi yang lebih paham soal keuangan syariah, secara spesifiknya pengelolaan zakat wakaf, acara banyak diisi narasumber yang kompeten soal Zakat Wakaf  dan juga perkembangannya di antara generasi Millennial dan Gen Z saat ini.    

Tunas Muda Agent of Change Ekonomi Syariah
Potensi dana zakat yang seharusnya bisa mancapai angka 217 Triliun/tahun justru sangat jauh dengan dana riil yang didapat hanya 7 Triliun tiap tahunnya. Berbagai tantangan terutama soal pemahaman dan sosialisi pada masyarakat yang masih kurang maksimal menjadi batu sandungan besar. Ironis sebenarnya jika diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim yang paling tinggi di dunia, namun pemahaman soal zakat masih jauh dari yang diharapkan. 

Bukan berati tidak paham, tapi bisa dibilang jika masyarakat hanya tahu soal zakat wakat hanya dipermukaannya saja. Sebatas tahu bahwa zakat hanya dikeluarkan pada akhir bulan puasa saja. Padahal pada kenyataannya, zakat banyak jenisnya seperti zakat maal, zakat perdagangan, peternakan, tambang, zakat profesi, zakat barang temuan dll. Begitu juga dengan wakaf, wakaf bisa berupa wakaf tanah, barang, uang, wakaf saham juga obligasi bahkan kita bisa mewakafkan diri kita yang semua pengelolaan dan pemanfaatannya untuk umat. 
 
Berdasar dari potensi zakat umat muslim Indonesia yang fantastis, sebenarnya masyarakat Indonesia bisa hidup layak dan jauh dari kemiskinan. Tak sekedar membuat angka kemiskinan menurun, jika dikelola dengan baik dana wakaf bahkan bisa membangun negara. Sayangnya potensi ini belum bisa dikelola secara maksimal jika pemahaman masyarakatnya saja masih minim seputar zakat dan wakafnya sendiri. Berkaitan dengan itu tunas-tunas muda sebagai agent of change dikumpulkan, harapannya tentu agar peserta paling tidak ikut memberikan pemahaman yang lebih dalam soal zakat wakaf ini dalam berbagai bentuk kontribusi. 

Para peserta terutama mahasiswa dan blogger tentu jadi peserta yang bisa berperan aktif dalam sosialisasi zakat wakaf khususnya lewat social media. Bahkan tagar #zakatwakafnow sudah menjadi trending topic nasional di hari pertama. Lalu, tagar #zakatwakafmembangunnegeri mulai pagi hingga malam di hari kedua terus bertengger di urutan pertama trending topic nasional. Lewat social media juga, sosialisasi ini digencarkan untuk menyasar semua kalangan terlebih anak muda sebagai pengguna sosmed yang dominan. Setidaknya, langkah awal ini agar anak muda aware dengan persoalan agama seputar zakat wakaf.   

Menyasar anak-anak muda sebagai peserta tentu bukan tanpa alasan. Anak muda terutama Generasi Milenial dan Gen Z yang kedepan akan menjadi para muzzaki (pemberi zakat) sudah sepatutnya diedukasi sejak dini. Dengan pemahaman yang kuat dan mendalam soal zakat yang sudah jadi kewajiban umat muslim dimana pun, bukan tidak mungkin jika kedepan, Indonesia bakal jadi maju dan rakyatnya sejahtera dari hasil zakat maupun wakaf. 
  

Di Zaman Now Bayar Zakat Sangat Di Permudah   
Semakin pesatnya pertumbuhan zaman yang terus menggunakan kecanggihan teknologi, soal kewajiban agama pun tentu bisa di modernkan pengelolaannya. Hal ini tercermin dalam berbagai cara membayar zakat, wakaf maupun, sedekah. Sebut saja salah satu lembaga zakat ternama, Rumah Zakat, yang sistem pengelolaannya sangat modern menggunakan teknologi baik pengumpulan dana di website dengan memanfaatkan Crowd Funding maupun menggunakan aplikasi. Pemanfaatan teknologi inilah yang membuat masyarakat sangat dipermudah seiring kemajuan zaman. Membayar kewajiban yakni zakat sudah semudah belanja online, tinggal buka website atau aplikasi lalu transfer.
Dengan canggihnya teknologi, tentu ini sangat bermanfaat bagi muzzaki maupun bagi badan amil. Tak perlu repot menyalurkan ke kantor ataupun amil mengambil ke rumah, bisa dilakukan dimana pun dengan pengunaan gadget yang tersambung dengan internet. Jika belanja untuk kebutuhan hidup saja bisa dilakukan dengan berbagai cara lewat puluhan aplikasi, menjalankan kewajiban agama seharusnya lebih diprioritaskan dengan kemudahan yang ada di zaman now.

Benefit dari kemudahan ini tentunya dana yang masuk mudah terkontrolnya karena lewat bank dan tidak bentuk cash yang berpotensi diselewengkan. Bahkan untuk pengecekan dan pengeloaan bisa dicek lansung di website lembaga-lembaga zakat ini. Lembaga zakat professional ini biasanya mengunggah laporan berkala mengenai dana zakat dan wakaf yang didapatnya. Bentuk fisik maupun non fisik dari hasil zakaf dan wakaf di lembaga-lembaga terpercaya pun bisa dilihat atau dikunjungi langsung misalnya sekolah, panti asuhan, pengeloaan desa dan beberapa program lainnya.    
Satu hal yang perlu disadari juga, zakat dan wakaf ini bakal terus ada. Tidak ada masanya karena ini merupakan pondasi bagi umat muslim. Zakat khususnya merupakan kewajiban agama sama seperti rukun islam lainnya. Jika dana zakat bahkan wakaf benar-benar dikelola secara optimal, bukan saja sesama umat saling membantu dan memajukan. Lebih besarnya zakat merupakan kontribusi dari umat islam bagi penggentasan kemiskinas di negara tercinta. Sementara wakaf sebagai sarana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

2 komentar:

  1. Penerimaan zakatnya besar sekali setau saya untuk ukuran indonesia,, terutama dibidang zakat wakaf.

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru karena itu kang, harusnya kan bisa dimanfaatkan untuk pembangnan negeri

      Hapus